Saat peresmian Perpustakaan (Perpus) elektronik milik SDN 5 Rabangodu Utara Kota Bima, Kamis (21/10/2021).
KOTA BIMA, TUPA MEWS.- Visi Pendidikan Indonesia yang terbaru yaitu mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, percaya dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME), dan berakhlak mulia, bergotong-royong, dan berkebhinekaan global. "Untuk mewujudkan visi tersebut, Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) RI telah menerbitkan kebijakan belajar, yang salah satu programnya adalah 'Sekolah Penggerak',".
Sekolah Penggerak adalah katalis untuk mewujudkan visi pendidikan Indonesia yang berfokus pada hasil belajar siswa secara holistik untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila. Program Sekolah Penggerak terdiri dari lima intervensi yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan, yaitu meningkatkan SDM sekolah, Pembelajaran dengan paradigma baru, Perencanaan berbasis data, dan Digitalisasi Sekolah. "Intervensi tersebut dilakukan secara kolaboratif oleh pemerintah pusat dan daerah,".
Untuk mewujudkan digitalisasi sekolah, SDN 5 Rabangodu Utara Kota Bima berkolaborasi dengan Penerbit Erlangga, memulainya dengan menghadirkan Perpustakaan Digital (e-library) yang berisi ratusan buku digital yang dapat diakses oleh anggota (siswa, red) secara online kapan saja sepanjang mereka berada di spot line Internet. "Perpustakaan digital tersebut diluncurkan secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Bima Drs. H. Supratman, MAP Kamis (21/10/2021) di ruang guru SDN 5 Rabangodu Utara Kota Bima yang ditandai dengan pemotongan pita oleh Ketua Dewan Pendidikan Kota Bima Drs. Abdul Azis, M.Pd," ujar Suhardi, S. Pd., M.Si selaku kepala sekolah setempat, dalam siaran persnya yang dikirim ke redaksi media ini Jum'at (22/10/2021) pagi.
Acara tersebut juga dihadiri oleh Pimpinan Penerbit Erlangga Bima Solihin, Koordinator Pengawas (Korwas) Pendidikan Kota Bima Abd. Salam, S.Pd, Ketua Komite SDN 5 Rabangodu Utara Abd. Haris Dinata, SE, M.Si, ST dan seluruh guru dan tenaga kependidikan SDN 5 Rabangodu Utara Kota Bima.
Kepala SDN 5 Rabangodu Utara Suhardin, M.Si dalam pengantarnya mengatakan bahwa e-lebrary ini bertujuan untuk mengurangi pengurangan, meningkatkan efisiensi, menambah inspirasi dan pendekatan yang disesuaikan. “Perpustakaan digital ini adalah sebuah ikhtiar untuk meningkatkan kemampuan literasi, khususnya literasi bahasa dan literasi digital para guru dan siswa bahkan orang tua dan masyarakat umum. "Sekolah kami adalah yang pertama memiliki e-library ditingkat Sekolah Dasar (SD) di Kota Bima,” kata Ketua PGRI Kota Bima ini.
Sementara Kepala Dinas Dikbud menegaskan bahwa Sekolah Penggerak merupakan program untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila yang terdiri dari enam dimensi tadi. Supratman juga mengapresiasi dan sangat mendukung terobosan yang dilakukan oleh Kepala SDN 5 Rabangodu Utara ini, dan akan mendorong sekolah-sekolah lainnya untuk segera memprogram perpustakaan digital guna meningkatkan kemampuan literasi bahasa dan literasi digital bagi siswa dan warga sekolah. "Saat ini lagi trend, yakni lebih suka membaca melalui media elektronik dari membaca buku dalam bentuk fisik," pungkasnya.
| Ketua Dewan Pendidikan (Teta Ejo) saat pemotongan pita, sebagai tanda perpus digital milik SDN 5 Rabangodu Utara, diresmikan. |
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komite maupun Korwas Pendidikan memuji langkah yang dilakukan oleh Kepala Sekolah Penggerak (KSP) Suhardin, M.Si. menurut keduanya, ini adalah terobosan strategi dalam meningkatkan kemampuan literasi siswa maupun guru dan tenaga kependidikan yang ada SDN 5 Rabangodu Utara Kota Bima. Haris Dinata pentingnya sekolah yang aman, hijau dan nyaman. Sementara Abdul Salam, agar guru-guru yang tampil rapi dan elegan saat ini dan tetap meningkatkan kompetensi sebagai pendidik.
Di akhir acara, pimpinan Penerbit Erlangga menawarkan pemasangan aplikasi perpustakaan digital dan Bimtek Pustakawan secara gratis untuk semua sekolah SD, SMP dan SMA di Kota Bima. "Sekolah hanya membeli buku digitalnya saja," harap Solihin. (TN - 01/Adv.)