KOTA BIMA, TUPA NEWS.- Bagi setiap orang, Aktifitas utang piutang telah menjadi sebuah kelaziman guna pemenuhan kebutuhan sehari-hari (daily need). Bahkan seorang Bang H. Rhoma Irama+pun ikut menyentilnya dengan istilah" Gali Lubang Tutup Lubang".
Akan tetapi, kelaziman dalam Hutang Piutang menjadi tidak lazim apabila penghutang tidak mau membayarkan dan melunasi hutangnya.
Hal ini terjadi pada salah seorang oknum Pimpinan Satuan Pendidikan di salah satu sekolah di Kota Bima ini. Pasalnya, berdasarkan laporan yang diterima media ini, ternyata banyak korban akibat ulah si oknum ini. Berdasarkan hasil investigasi media ini, para korban oknum ini bervariasi dan lintas profesi yang terdiri dari ASN, masyarakat biasa, dan pedagang, serta bahkan sejumlah BUMN didatangi untuk pengajuan dana pinjaman (kredit).
Kepada wartawan ini Kamis (01/09/2022) salah seorang korban berinisial (UY) menyampaikan bahwa pada 4 tahun silam oknum kepala satuan pendidikan tersebut datang pinjam kerumah pribadi UY berupa emas dan uang tunai. "Emas milik saya tersebut berupa gelang dan cicin seberat puluhan gram dan uang senilai jutaan rupiah," kata UY saat diwawancarai di kediamannya disalah satu kelurahan di Kota Bima, Kamis pagi.
Masih kata UY," sebenarnya oknum ini dikenal sebagai sosok yang baik, dan polos. UY tidak pernah menyangka hasilnya seperti sekarang ini. Apalagi batas waktu peminjaman emas dan uang molor hingga empat tahun lamanya. "Seharusnya yang bersangkutan (oknum) mengembalikan semua emas dan uang saya pada bulan kemarin. Namun, sesuai hasil kesepakatan bersama, semua utang akan ditebus pada akhir tahun ini," tegasnya.
Saat media ini mengkonfirmasi lebih lanjut tentang konsekuensi jika batas waktu pengembalian utang tidak ditunaikan sebagaimana isi perjanjian, Apakah UY akan menempuh jalur hukum?. "Ya saya pikir-pikir dulu ya. Pastinya akan dirembukin dulu dengan keluarga. Jadi apapun hasil musyawarah dan mufakat dengan keluarga, itulah solusi terbaik buat kami," jawabnya.
Terkait sikap dan ulah oknum pimpinan satuan pendidikan ini, UY berharap dan mengimbau kepada dinas terkait yaitu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Bima untuk segera melakukan pembinaan kepada yang bersangkutan apalagi si oknum ini telah berkali-kali berjanji akan menyelesaikan utangnya.
Lebih lanjut, UY menuturkan bahwa saat didatangi untuk penagihan ke rumah pribadinya, oknum tersebut selalu tidak ada di tempat hingga akhirnya kami putuskan untuk mendatangi sekolah tempat yang bersangkutan menjabat sebagai kepala satuan pendidikan. Ironinya, bukannya ketemu langsung dengan oknum kepala satuan pendidikan tersebut, tetapi sejumlah tamu yang memiliki tujuan dan maksud yang sama dengan kami.
Sementara itu di tempat terpisah, salah satu pimpinan satuan pendidikan pada wartawan ER (inisial) mengatakan bahwa oknum yang disampaikan oleh UY tidaklah asing bagi dirinya. Pasalnya, saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di sekolah kami, si oknum terlibat mendaftarkan calon siswa baru. Hebatnya, saat registrasi si oknum ini membawa embel-embel nama kepala daerah. "Saya orang dekat ini," seperti itulah lagak dan perangai oknum ini guna memuluskan tujuannya, papar ER kepada wartawan ini. (TN - 01
