![]() |
| Nampak tiga kepsek penggerak hebat asal Kota Bima. Dedy Rosadi (Kepala SMAN 1), H. H. Eddy Salkam, S. Pd (Kepala SMAN 2) dan Siti Maryatun, S. Pd., MM (Kepala SMAN 4). |
KOTA BIMA, TUPA NEWS. -Program Sekolah Penggerak merupakan upaya untuk mewujudkan visi Pendidikan Indonesia dalam mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila.
Program Sekolah Penggerak berfokus pada
pengembangan hasil belajar siswa secara holistik yang mencakup kompetensi
(literasi dan numerasi) dan karakter, diawali dengan SDM yang unggul (kepala
sekolah dan guru).
Program Sekolah Penggerak merupakan penyempurnaan program transformasi sekolah sebelumnya. Program Sekolah Penggerak akan mengakselerasi sekolah negeri/swasta di seluruh kondisi sekolah untuk bergerak 1-2 tahap lebih maju. Program dilakukan bertahap dan terintegrasi dengan ekosistem hingga seluruh sekolah di Indonesia menjadi Program Sekolah Penggerak.
Untuk Kota Bima yang mendapatkan program sekolah penggerak khususnya pada Tingkat SMA hanya tiga sekolah saja yaitu, SMAN 1 Kota Bima, SMAN 2 Kota Bima dan SMAN 4 Kota Bima. Sehingga kini pada konsep sekolah penggerak memiliki program bullying,
Apa itu Bullying?
Bullying adalah perbuatan tidak baik yang dilakukan oleh seseorang atau lebih kepada orang lainnya.
Perbuatan tidak baik yang dimaksud bisa berupa hal-hal yang menyakiti secara fisik, seperti memukul, mendorong, dan lain-lain.
Bisa juga menyakiti secara verbal, misalnya mengejek penampilan, menghina kemampuan, dan masih banyak lagi.
Tidakan menjauhi dan mengucilkan seseorang juga termasuk tindakan bullying, lo.
Bullying tidak hanya terjadi pada orang-orang yang saling kenal atau sering bertemu secara langsung.
Di zaman yang sudah maju ini, bullying bisa dilakukan lewat telepon, mengirim pesan melalui SMS atau email, dan meninggalkan komentar buruk di media sosial.
Istilah bullying melalui gadget (gawai) biasa dikenal dengan istilah cyberbullying.
Tiga Kepala Sekolah (Kepsek) Penggerak yang berhasil ditemui Tupa News Selasa (24/08/2021) ditempat berbeda yakni, Kepala SMA Negeri 1 Kota Bima Dedy Rosadi, M. Pd., M. Sc, Kepala SMAN 2 Kota Bima H. Eddy Salkam, S. Pd dan Kepala SMAN 4 Kota Bima Siti Maryatun, S. Pd., MM mengatakan, pada program yang dicanangkan Pemerintah Pusat, melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI. Dalam program tersebut akan diambil warga belajar sebagai sampelnya sebanyak 30 orang siswa saja dan dua orang guru sebagai fasilitatornya.
"Pada program ini, akan dibayai oleh pusat (APBN) melalui Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah senilai Rp. 10 juta setiap tahunnya. Jadi ke 30 siswa ini merupakan agen perubahan dan akan mengikuti bimtek selama satu bulan dan bulan September nantinya siswa ini baru eksen. 30 siswa ini merupakan perwakilan 10 orang setiap kelas tingkatan, baik Kelas X, XI dan Kelas XII," ujar mereka yang ditemui di ruang kerjanya masing-masing.
Ke 30 siswa ini sebelumnya diseleksi secara online dan mereka ini akan dilatih mulai tutur kata, bahasa, penampilan, dan sebelumnya para siswa ini sudah mengisi angket (kosioner) atau diseleksi terlebih dahulu. Sedangkan untuk fasilitator merupakan perwakilan dari unsur guru bagian kesiswaan dan guru Bimbingan Konseling (BK), dan penunjukkan dua orang guru itu adalah hak kepsek.
Kata mereka (kepsek penggerak hebat ini), untuk 30 siswa ini adalah sebagai model saja disekolah dan dikelasnya serta mereka (agen perubahan) tetap akan mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) seperti siswa yang lainnya. "Ke 30 siswa ini nantinya akan mengikuti bimtek selama satu bulan (Agustus, red) ini dan bulan September 2021 mereka baru eksen," tutup mereka. (TN - 01)
