| Kepala SMP Negeri 14 Kota Bima Fris Wahyudin, S. Pd., M. Si. |
KOTA BIMA, TUPA NEWS.- Program Sekolah Penggerak (PSP) Angkatan II Periode Tahun 2022, untuk tingkat SMP Tingkat Kota Bima Angkatan II/2022 diikuti oleh 20 lebih SMP negeri/swasta dan pada tahap seleksi Tahap I tersebut yang dinilai berupa riwayat hidup dan pengalaman kerja, sejak karir serta pengisian essai. Dari tahapan itu yang lolos pada Tingkat SMP se Kota Bima yakni, (1) SMP IT Insan Kamil, (2), SMPN 4 Kota Bima dan (3) SMPN 14 Kota Bima.
Kepala SMP Negeri 14 Kota Bima Fris Wahyudin, S. Pd., M. Si ketika diwawancarai media ini, pada awalnya belum mau berkomentar banyak tentang peluang sekolahnya untuk lolos sebagai sekolah penggerak angkatan II. Namun ketika ditanya apakah Bapak optimis lolos, dengan penuh keyakinan optimis lolos. "Saya selaku Kepala SMPN 14 Kota Bima Optimis sekolah yang dipimpinnya itu lolos sebagai sekolah penggerak Angkatan II Periode Tahun 2022. Walaupun pengumuman resminya belum keluar dan insya Allah akan di umumkan diatas tanggal 10 Januari 2022 ini," ujar Fris (sapaan akrabnya) saat diwawancarai Tupa News Sabtu (08/01/2022) dihalaman sekolahnya. Sambil menambahkan, bahwa standar kelulusan sekolah penggerak tersebut adalah passing grade (nilai ambang batas), passing grade adalah nilai standar, sehingga apabila nilainya dibawah standar, maka secara otomatis tidak lulus.
Masih lanjut Fris, rasa optimisme sekolah lolos sebagai PSP tersebut yakni, sekolah saat ini sudah melalukan berbagai kemajuan seperti pemasangan bell digital alaran sekolah, penataan taman sekolah, termaksud pembangunan Aula yang bersumber dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bima dan ini sebagai langkah untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi warga sekolah.
Pada prinsipnya jabatan kepsek itu hanya titipan, justru yang memiliki sekolah ini adalah guru-guru, pegawai serta siswa, bukan Kepala Sekolah saja. Artinya mereka-lah yang paling bertanggung jawab atas kemajuan sekolah ini, dan kepsek-pun tidak dapat bekerja sendiri tanpa bantuan dan kerjasama dari seluruh warga sekolah. Jadi yang menjadi kelemahan di sekolah pada umumnya adalah bahwa guru-guru, pegawai dan siswa kurang ada rasa memiliki terhadap sekolahnya. "Mestinya kita menjaga dan merawat sekolah sebagaimana menjaga dan merawat rumah kita sendiri," pungkasnya. (TN - 01)