| Walikota Bima H. Muhammad Lutfi, SE |
Kota Bima, Tupa News.- Usai acara silahturahim dan pembinaan pembelajaran masa Pandemi Covid-19 oleh Walikota Bima lingkup jajaran pendidikan pengawas, Kepala SD dan SMP Se Kota Bima Tahun Pelajaran 2020/2021 di Gedung Seni Budaya (GSB) Rabu (08/07/2020). Wartawan Tupa News berhasil memwawancarai secara eksklusif Walikota Bima H. Muhammad Lutfi, SE terkait dugaan perselingkuhan sejumlah oknum Kepala Sekolah (Kepsek) di Kota Bima, berikut ini pernyataan resmi Walikota HM. Lutfi.
Pada wartawan ini: Walikota HM. Lutfi di depan GSB Rabu pagi mengatakan, inikan baru sebatas desas desus dan atau seputar isu semata, kalau ada bukti saya sikat. Bukti yang saya maksud yakni istri orang lain (Korban) atau suami syah orang lain (Korban) datang lapor secara langsung ke saya, pasti dirinya akan mengambil sikap tegas. “Kita tidak bisa menvonis perbuatan oknumnya, karena bagaimanapun juga asas praduga tidak bersalah harus dikedepankan. Kecuali ada bukti, maka saya akan ambil tindakan tegas,” ujarnya singkat.
Saat disinggung media ini, akan adanya isu mutasi dan rotasi dalam waktu dekat ini khusus untuk kalangan satuan pendidikan, Walikota Bima, HM. Lutfi, menegaskan, tidak benar ada mutasi seperti yang diisukan itu. “Biarkan mereka (Satuan Pendidikan, red) membangun sinergitas dengan seluruh jajarannya, seperti: Dewan pendidikan, pengawas, kepsek mulai dari tingkat TK, SD dan SMP. Agar dunia pendidikan menjadi lebih baik dan lebih maju lagi,” bebernya.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, sejumlah oknum pimpinan satuan pendidikan tersebut yang terlibat dalam skandal kasus perselingkuhan baik yang diisukan dari tukang mengganggu istri syah orang lain, maupun mengganggu suami syah orang lain dengan motif dan cerita yang berbeda-beda, diantaranya ada oknum kepsek yang berfoto selfie dengan suami orang lain, ada juga oknum kepsek tukang ganggu istri orang lain, ada oknum kepsek selingkuhi guru honorer karena suaminya sering berada di luar kota dan ada pula oknum kepsek berselingkuh dengan seorang janda di sekolahnya. Entah sampai kapan semua stigma negatif yg melekat di satuan pendidikan pada era Walikota H. Lutfi akan berakhir.
Mungkin, dengan pencopotan oknum kepsek yang bermasalah dan juga merangkap sebagai pelaku asusila adalah solusi terbaik. Ataukah, dengan melakukan pembiaran sambil berharap bahwa waktulah yang menjawab dan mengurai semuanya. Semua tabir ini akan tersingkap hanya oleh Walikota Bima sendiri karena sesungguhnya HM. Lutfi pemilik hak tunggal dan prerogatif untuk menentukan rotasi dan mutasi ASN. Arifnya adalah mari kita tunggu good will dan keberanian Walikota Bima mengeksekusinya yang mana hal ini nantinya dapat publik jadikan sebagai salah satu barometer bahwa motto " Perubahan" adalah bukan hanya sebatas jargon dan slogan semata. (TN. 06)